Skip to main content

SIAPA DIA?

#Prompt144
Matanya begitu dingin menatapku. "Kau tidak tahu siapa aku ya?"

Dahiku berkerut, mataku memicing sambil terus mengamatinya. 

"Ed, ini aku Angelic. Ah, pasti perban di kepalamu itu yang membuatmu lupa." Wanita berambut cokelat itu merengut.

"Masih pusing? Sebaiknya jangan terlalu dirasakan. Sebentar juga hilang. Itu kan cuma luka kecil. Cepatlah, Ed. Perjalanan kita masih panjang."

Angelic menarik tanganku, memaksa untuk bangun tetapi aku hanya sanggup duduk di ranjang. 

"Kita..., mau ke mana?" 

"Kita kan mau ke Portland, dataran Oregon. Aku akan menanam bunga tulip di perkebunan di belakang rumah yang telah kau bangun untukku di sana. Ayolah, Ed. Kita harus cepat, aku sudah tidak sabar lagi."

Aku terdiam. Kepalaku semakin pening dan tidak mengerti dengan apa yang wanita ini katakan. 

"Ed..., kau baik-baik saja?"
"A-aku...."

"Jangan bilang kau akan membatalkan semua janjimu itu padaku, Ed. Aku telah meletakkan semua harapanku kepadamu."

Aku masih tak menjawab. Jangankan mencerna perkataannya. Berada di mana saat ini pun, aku tak tahu.

"Utah sudah membosankan, Ed. Kita akan mencari suasana baru. Menghabiskan waktu dengan cinta dan menua bersama hingga akhir hayat kita."

Angelic melepaskan genggamannya dari tanganku. Kini ia duduk di tepi ranjang sambil menatapku.

"Aku bosan bercinta denganmu di dalam ruang pengap ber-AC. Aku ingin bebas memilikimu, selamanya. Di mana pun dan kapan pun, Ed. Jangan bilang wanita itu yang menahanmu hingga kau seperti ini?"

"Wanita? Siapa? Apa maksudmu?"
Angelic kembali menatapku dengan dingin. 

"Apa kau benar-benar lupa?"
Aku hanya mengangguk.

"Sudahlah. Lebih baik kita tidak usah membahas wanita itu. Sekarang ayo bangun. Kita lanjutkan rencana kita."

Aku menarik napas panjang, tersenyum dan menyambut tangannya. Lalu aku menurunkan kedua kakiku dari ranjang, berdiri dan siap melangkah bersamanya. 

Tapi langkahku terhenti. Kami pun berpandangan kemudian beralih ke sebuah tali pengikat pergelangan tanganku yang lain di sisi ranjang. 

"Lepaskan tali itu, Ed. Cepatlah, kita harus segera pergi." pinta Angelic.

Angelic melangkah mundur menjauhiku. Aku berusaha keras melepaskan tali itu, tetapi semakin lama aku berusaha, tali itu mengikat tanganku semakin keras. 

"Cepatlah, Ed...." Angelic kini berteriak. Aku terus berontak, berusaha melepaskan tali yang mengikatku sambil sesekali berusaha menjangkau tangan Angelic yang semakin menjauh. 

"Mooom..., Dady sadar...." 

Suara anak kecil muncul mengejutkan seiring dengan cahaya menyilaukan mataku. Ruangan putih, bunyi detak jantung yang terekam di mesin segera tertangkap oleh indraku.

"Oh, Tuhan. Syukurlah kau sadar, Ed. Steve, cepat panggil dokter."

Seorang wanita bermata abu-abu dan berambut hitam menatapku hangat, menggenggam dan menciumi tanganku berulang-ulang. 

Tak lama seorang dokter dan dua orang perawat datang, memeriksa semua kondisiku.

"Welcome back, Ed. Selamat Mrs, Vall. Suami Anda telah kembali." ucap dokter itu sambil menebar senyum ke semua orang yang mengelilingiku.

"Kau selamat, Ed. Kau koma selama satu bulan. Kau kecelakaan mobil bersama Angelic saat menuju bandara untuk kunjungan ke Portland." Jelas Vallerie.

"Angelic?" Tanyaku, saat melihat Angelic berdiri di belakang istriku.

"Dia meninggal seketika di tempat kejadian." Jelas Vallerie lagi.

"Aku akan kembali untuk menagih janjimu padaku. Lepaskan ikatan itu, Ed." Ucap Angelic sambil terus menjauh dan menghilang di balik dinding bercat putih kamar rumah sakit.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketigabelas

#Prompt145 Ketigabelas
Malam ini wajah pucatnya berbeda dari biasanya. Ada satu garis keresahan yang dapat aku rasakan. Ia berdiri di depan pintu kamar. Matanya menyapu semua ruangan, menatap satu persatu wajah anak-anak yang sedang bercengkrama. Semuanya perempuan dengan jarak usia yang berdekatan. 
Hampir dua puluh tahun pernikahan, ia lalui tanpa seorang anak. Kemudian setelah anak pertama lahir, kehamilan pun mudah didapat. Ia tak pernah marah dengan tingkah mereka. Seribut apa dan seberantakan apa pun rumahnya. Anak-anak yang selalu ceria. Dapat menerima keadaan apa adanya. Keceriaan yang selalu membuatnya bahagia. 
Tapi malam ini tawa anak-anak itu tak lagi mampu menghiburnya. Langit seakan bergelayut di setiap helai rambutnya.
"Ibu, baik-baik aja, Bu?" Tanya Si Sulung yang sedang mengajarkan adik bungsunya membaca.
"Ya, Ibu baik-baik saja." Jawabnya sambil tersenyum. Tapi aku tahu ada kebohongan di balik kalimatnya.
Sulung kembali meneruskan bacaan dan ia k…